Kamis, 07 Maret 2013




PERIHAL ALIH KODE (CODE SWITCHING) DAN CAMPUR KODE (CODE MIXING/INTERFERENCE) DALAM KEDWIBAHASAAN

  1. PENDAHULUAN
Sebagai seseorang yang terlibat dengan penggunaan dua bahasa, dan juga terlibat dengan dua budaya, seorang dwibahasawan tentulah tidak terlepas dari akibat-akibat penggunaan dua bahasa itu. Salah satu akibat dari kedwibahasaan adalah adanya tumpang tindih antara kedua sistem bahasa yang dipakainya atau digunakannya unsur-unsur dari bahasa yang satu pada penggunaan bahasa yang lain.
Malmaker (1992: 61-61) membedakan campuran sistem linguistik ini menjadi dua:
a. Alih kode (code switching), yaitu beralih dari satu bahasa ke dalam bahasa lain
dalam satu ujaran atau percakapan; dan
b. Campur kode (code mixing/interference), yaitu penggunaan unsur-unsur bahasa,
dari satu bahasa melalui ujaran khusus ke dalam bahasa yang lain.
Campur kode atau interferensi mengacu pada penggunaan unsur formal kode bahasa seperti fonem, morfem, kata, frase, kalimat dalam suatu konteks dari satu bahasa ke dalam bahasa yang lain (Beardsmore, 1982: 40). Alih kode dan campur kode dalam konteks dan situasi berbahasa dapat dilihat dengan jelas, juga tataran, sifat, dan penyebabnya.

  1. LANDASAN TEORITIS
2.1 BATASAN ALIH KODE
Dalam keadaan bilingual, penutur ada kalanya mengganti unsur-unsur bahasa atau tingkat tutur, hal ini tergantung pada konteks dan situasi berbahasa tersebut. Misalnya, pada waktu berbahasa X dengan si A, datang si B yang tidak dapat berbahasa Y memasuki situasi berbahasa itu, maka kita  beralih memakai bahasa yang dimengerti oleh si B. Kejadian semacam ini kita sebut alih kode.
Nababan (1991: 31) menyatakan bahwa konsep alih kode ini mencakup juga kejadian pada waktu kita beralih dari satu ragam bahasa yang satu, misalnya ragam formal ke ragam lain, misalnya ragam akrab; atau dari dialek satu ke dialek yang lain; atau dari tingkat tutur tinggi, misalnya kromo inggil (bahasa jawa) ke tutur yang lebih rendah, misalnya, bahasa ngoko, dan sebagainya.
Kridalaksana (1982: 7) menegaskan bahwa penggunaan variasi bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya partisipasi lain disebut alih kode.
Alih kode dapat terjadi pada masyarakat bahasa bilingual atau multilingual, namun juga terjadi pada masyarakat bahasa monolingual.
Pada masyarakat bilingual atau multilingual, alih kode dapat terjadi dari varian bahasa yang satu ke varian bahasa yang lain.
Faktor-faktor penyebab alih kode dapat ditelusuri melalui keterkaitan suatu pembicaraan dengan konteks dan situasi berbahasa.
Hymes (1964) mengemukakan faktor-faktor dalam suatu interaksi pembicaraan yang dapat mempengaruhi penetapan makna, yaitu:
  • siapa pembicara atau bagaimana pribadi pembicara ?
  • di mana atau kapan pembicaraan itu berlangsung ?
  • apa modus yang digunakan ?
  • apa topik atau subtopik yang dibicarakan ?
  • apa fungsi dan tujuan pembicaraan ?
  • apa ragam bahasa dan tingkat tutur yang digunakan ?
Dari berbagai sudut pandang tersebut di atas, alih kode dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
  1. Jenis alih kode : alih bahasa, alih ragam bahasa, alih tingkat tutur;
  2. Tataran alih kode: tataran fonologi, tataran fonem, tataran kata atau frase;
  3. Sifat alih kode: alih kode sementara,alih kode tetap atau permanen;
  4. Faktor penyebab alih kode: pribadi pembicara, hubungan pembicara dengan mitra pembicara, topik atau subtopik.
2.2 BATASAN CAMPUR KODE
Kridalaksana (1982; 32) memberikan batasan campur kode atau interferensi sebagai penggunaan satuan bahasa dari suatu bahasa ke bahasa lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa; termasuk di dalamnya pemakaian kata, klausa, idiom, sapaan, dan sebagainya.
Nababan (1989:32) menegaskan bahwa suatu keadaan berbahasa menjadi lain bilamana orang mencampurkan dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam situasi berbahasa yang menuntut percampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan/atau kebiasaanya yang dituruti. Tindak bahasa yang demikian disebut campur kode. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Ciri yang menonjol dari campur kode ini adalah kesantaian atau situasi informal. Kalau terdpat campur kode dalam keadaan demikian, hal ini disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa lain (bahasa asing).
Sifat campur kode dibedakan antara interferensi dengan kalimat integratif. Interferensi merupakan masuknya unsur suatu bahasa ke dalam bahasa lain yang belum diserap, jadi bersifat sementara. Kalimat integratif merupakan masuknya unsur suatu bahasa ke dalam bahasa lain dn diserap, jadi bersifat tetap atau permanen (Beardsmore,1982: 44)
Hamers dan Blanc (1983: 78) mengemukakan bahwa interferensi dapat terjadi dalam bidang fonologi, sintaksis dan semantik. Jika interferensi dalam bidang semantik tidak dianggap sebagai pengaruh asing, maka campur kode ini bersifat permanen dan disebut kalimat integratif.
Haugen dan Beardsmore (1982: 46) melaporkan bahwa kebanyakan hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur nomina paling mudah bercampur dari satu bahasa ke dalam bahasa lain, sedangkan struktur atau fungsi bahasa agak sukar mengalami campur kode. Selanjutnya, Haugen dan Beardsmore (1982: 46) melaporkan bahwa unsur bahasa yang mudah bercampur setelah nomina adalah verba, adjektiva, adverbial, preposisi dan interjeksi; sedangkan pronomina dan artikel menunjukkan kekokohan untuk tidak bercampur dengan unsur bahasa lain.
Seperti halnya alih kode, campur kode juga dapat dilihat dari berbagai sudut pandang:
  1. Jenis campur kode: campur bahasa, campur ragam, campur tingkat tutur.
  2. Tataran campur kode: tataran fonem, tataran morfem, tataran kata atau frasa, tataran kalimat.
  3. Sifat campur kode: campur kode sementara, campur kode tetap atau permanen.
2.3 FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DAN TUJUAN MELAKUKAN ALIH KODE ATAU CAMPUR KODE
Beberapa faktor penyebab terjadinya alih kode atau campur kode dipengaruhi oleh konteks dan situasi berbahasa yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pembicara dan Pribadi Pembicara
Pembicara kadang-kadang sengaja beralih kode terhadap mitra bahasa karena dia mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Dipandang dari pribadi pembicara, ada berbagai maksud dan tujuan beralih kode antara lain pembicara ingin mengubah situasi pembicaraan, yakni dari situasi formal yang terikat ruang dan waktu ke situasi non-formal yang tidak terikat ruang dan waktu. Pembicara kadang-kadang melakukan campur kode bahasa satu ke dalam bahasa yang lain karena kebiasaan.
b. Mitra Bicara
Mitra bicara dapat berupa individu atau kelompok. Dalam masyarakat bilingual, seorang pembicara yang mula-mula menggunakan satu bahasa dapat beralih kode menggunakan bahasa lain dengan mitra bicaranya yang mempunyai latar belakang bahasa daerah yang sama. Seorang bawahan yang berbicara dengan seorang atasan mungkin menggunakan bahasa Indonesia dengan disisipi kata-kata dalam bahasa daerah yang nilai tingkat tuturnya tinggi dengan maksud untuk menghormati. Sebaliknya, seorang atasan yang berbicara dengan bawahan mungkin menggunakan bahasa Indonesia dengan disisipi kata-kata daerah (Jawa ngoko) yang memiliki tingkat tutur rendah dengan maksud untuk menjalin keakraban. Pertimbangan mitra bicara sebagai orang ketiga juga dapat menimbulkan alih kode jika orang ketiga ini diketahui tidak dapat menggunakan bahasa yang mula-mula digunakan kedua pembicara. Misalnya, pembicara dan mitra bicara menggunakan bahasa Jawa beralih kode menggunakan bahasa Inggris karena hadirnya seorang penutur Inggris yang memasuki situasi pembicaraan.
c. Tempat Tinggal dan Waktu Pembicaraan Berlangsung
Pembicaraan yang terjadi di sebuah terminal bus di Indonesia, misalnya, dilakukan oleh masyarakat dari berbagai etnis. Dalam masyarakat yang begitu kompleks semacam itu akan timbul banyak alih kode dan campur kode. Alih bahasa atau campur kode itu dapat terjadi dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain, dan dari tingkat tutur suatu bahasa ke tingkat tutur bahasa yang lain. Seorang penjual karcis bus di sebuah terminal yang multilingual pada jam-jam sibuk beralih kode dengan cepat dari bahasa satu ke dalam bahasa yang lain dan juga melakukan campur kode atau bahasa.
d. Modus Pembicaraan
Modus pembicaraan merupakan sarana yang digunakan untuk berbicara. Modus lisan (tatap muka, melalui telepon,atau melalui audio visual) lebih banyak menggunakan ragam non-formal dibandingkan dengan modus tulis (surat dinas, surat kabar, buku ilmiah) yang biasanya menggunakan ragam formal. Dengan modus lisan lebih sering terjadi alih kode dan campur kode daripada dengan menggunakan modus tulis.
e. Topik
Dengan menggunakan topik tertentu, suatu interaksi komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Alih kode dan campur kode dapat terjadi karena faktor topik. Topik ilmiah disampaikan dalam situasi formal dengan menggunakan ragam formal. Topik non-ilmiah disampaikan dalam situasi “bebas”, “santai” dengan menggunakan ragam non-formal. Dalam ragam non-formal kadang kadang terjadi “penyisipan” unsur bahasa lain, di samping itu topik pembicaraan non-ilmiah (percakapan sehari-hari) menciptakan pembicaraan yang santai. Pembicaraan yang santai juga dapat menimbulkan campur kode.
f. Fungsi dan Tujuan
Fungsi bahasa yang digunakan dalam pembicaraan didasarkan pada tujuan berkomunikasi. Fungsi bahasa merupakan ungkapan yang berhubungan dengan tujuan tertentu, seperti perintah, menawarkan, mengumumkan, memarahi, dan sebagainya. Pembicara menggunakan bahasa menurut fungsi yang dikehendakinya sesuai dengan konteks dan situasi komunikasi. Alih kode dapat terjadi karena situasi dipandang tidak sesuai atau tidak relevan. Dengan demikian, alih kode menunjukkan adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasional yang relevan dalam pemakaian dua bahasa atau lebih.
g. Ragam dan Tingkat Tutur Bahasa
Pemilihan ragam dan tingkat tutur bahasa banyak didasarkan pada pertimbangan pada mitra bicara. Pertimbangan ini menunjukkan suatu pendirian terhadap topik tertentu atau relevansi dengan situasi tertentu. Alih kode dan campur kode lebih sering timbul pada penggunaan ragam non-formal dan tutur bahasa rendah dibandingkan dengan penggunaan ragam bahasa tinggi.


  1. DESKRIPSI DATA DAN ANALISIS DATA
3.1 DESKRIPSI DATA
Penelitian ini dilaksanakan di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris, di Bandung. Metode yang digunakan untuk mencari data adalah wawancara dan pengamatan. Responden yang diwawancara berjumlah satu orang, dengan keterangan sebagai berikut:
Responden (R)
Nama: James Andrew Moloch
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 32 tahun
Tempat Kelahiran: Australia
Bahasa Ibu: Bahasa Inggris
Bahasa lain yang dikuasai: Bahasa Indonesia
Pekerjaan: Karyawan Perusahaan Multimedia
Responden dipilih berdasarkan hasil pengamatan, ketika ia terlibat percakapan dengan salah seorang instruktur Bahasa Inggris ditempat kursus tersebut, yaitu:
Mediator (X)
Nama: Joko Subiantoro
Jenis Kelamin: Laki-laki
Usia: 30 tahun
Tempat Kelahiran: Bandung
Bahasa Ibu: Bahasa Indonesia
Bahasa lain yang dikuasai: Bahasa Inggris, Bahasa Sunda, Bahasa Jawa.
Pekerjaan: Instruktur Bahasa Inggris selama 5 tahun
Data pewawancara adalah sebagai berikut:
Pewawancara (P)
Nama                                       : R.A. Kanya V. Devi
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Usia                                         : 36 tahun
Tempat Kelahiran                    : Bandung
Bahasa Ibu                              : Bahasa Indonesia
Bahasa lain yang dikuasai       : Bahasa Jepang, Bahasa Inggris, Bahasa Itali,
Bahasa Perancis, dan Bahasa Belanda
Pekerjaan                                 : Penulis
Hasil pengamatan dan wawancara dengan responden telah ditranskripsikan (terlampir) untuk dianalisis.
3.2 ANALISIS DATA
Hasil pengamatan dan wawancara tersebut menjadi data utama yang dibagi menjadi 4 bagian sesuai dengan konteks pembicaraan. Analisis data mendeskripsikan jenis, tataran, sifat, dan faktor penyebab terjadinya alih kode dan campur kode.
Data 1
X: S’cuse me. Are you waiting for someone? (1)
R: Yes, I’m picking up my wife. She’s studying here.(2)
X: Oh, why don’t you come in? It’s raining.(3)
R: No, No, terima kasih. Saya cuma tunggu sebentar istri saya.(4)
X: I don’t think so. It’s Friday. The classes won’t finish until 5 o’clock.
Come on in. By  the way, my name’s Joko.
I am one of the instructors here. (5)
R: Nice to meet you. I’m Jim. Boleh saya duduk disini? May I sit here?(6)
X: Of course, make yourself comfortable. By the way, which class is
your wife in?(7)
R: She’s in the Elementary class. Etty. She just started 3 days ago. (8)
X: Ooh, Etty. The one with long straight dark hair and glasses?
Your wife’s very pretty.(9)
R: Yeah, that’s my wife.(10)
Keterangan Data 1
  1. Modus pembicaraan: tatap muka secara lisan.
  2. Topik dan subtopik Pembicaraan
    Topik Pembicaraan: membuka percakapan
    Subtopik: cuaca (hujan)
  3. Fungsi dan Tujuan Berbahasa
    Fungsi kalimat (1): membuka percakapan
    Fungsi kalimat (2): menjelaskan keadaan
    Fungsi kalimat (3): memberikan tawaran
    Fungsi kalimat (4): menolak tawaran
    Fungsi kalimat (5): mengajak berkenalan
    Fungsi kalimat (6): menyambut perkenalan
    Fungsi kalimat (7),(8),(9),(10): menjalin keakraban
  4. Bahasa, Ragam, dan Tingkat Tutur
    Bahasa yang mula-mula digunakan adalah bahasa Inggris (kalimat 1, 2, dan 3). Bahasa yang kemudian digunakan adalah bahasa Indonesia dengan tingkat tutur biasa (kalimat 4). Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam santai/non-formal dan sopan.
Dari analisis data 1 dapat dikemukakan bahwa pada dialog ini terjadi alih kode, yaitu pada kalimat (4) dan (6). Alih kode pada data 1 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut :
  1. Jenis alih kode adalah alih kode bahasa
  2. Tataran alih kode adalah tataran kalimat
  3. Sifat alih kode sementara tergantung situasi
  4. Faktor penyebab alih kode ialah Responden (R) pada kalimat (4) menggunakan bahasa lain (bahasa Indonesia) dengan maksud membangun keakraban sekaligus menghormati tuan rumah dengan memberikan isyarat bersedia berbicara dalam bahasa asli tuan rumah. Sedangkan alih kode pada kalimat (6) lebih disebabkan rasa ragu pada Responden untuk memilih apakah menuruti keyakinannya untuk menghormati tuan rumah atau mengikuti keinginan tuan rumah yang selalu bertanya bukan dengan bahasa tutur aslinya.
Pada dialog 1 terjadi campur kode. Responden melakukan campur kode bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Campur kode Data 1 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut:
  1. Jenis campur kode ialah campur bahasa
  2. Tataran campur kode ialah tataran kalimat
  3. Sifat campur kode sementara
  4. Faktor penyebab campur kode ialah perbedaan tujuan dalam menggunakan bahasa; yang satu ingin menghormati bahasa lawan bicaranya, sementara lawan bicaranya ingin mempraktekkan/melatih kemampuan bahasa asingnya.
Data 2
X: I’m sorry to bother you er…, Jim. But, do you think you could do me a favor?(1)
R: Mengenai (baca: menggenay) istri saya?(2)
X: No, No, Bukan. Kebetulan saya kedatangan tamu, a Writer.
She’s conducting a survey on bilingualism. She’s looking for an English native
speaker who also speaks Bahasa Indonesia for an interview. So, do you think you
could help her?(3)
R: Yes, of course, with pleasure. While I’m waiting for my wife……(4)
X: Oh, thank you so much. It’s really kind of you. Now, let me introduce you to my
visitor. Ms. Kanya, this is James Andrew er…(5)
R: Moloch…. But, please call me Jim.(6)
P: Hi! Nice to see you. My name is Kanya.(7)
X: OK, I think I can leave you two together. I’ll be around if you need me. (8)
P: Thanks Mr. Joko….
Well, Jim…., eh.. saya panggil Jim saja, ya?(9)
R: Ya, ya.(10)
Keterangan Data 2
  1. Modus pembicaraan: tatap muka secara lisan.
  2. Topik dan subtopik Pembicaraan
    Topik Pembicaraan: meminta bantuan
    Subtopik: perkenalan
  3. Fungsi dan Tujuan Berbahasa
    Fungsi kalimat (1): mengajukan permintaan
    Fungsi kalimat (2): meminta penjelasan maksud permintaan
    Fungsi kalimat (3): memberikan penjelasan
    Fungsi kalimat (4): mengabulkan permintaan
    Fungsi kalimat (5): berterima kasih dan memperkenalkan dua pihak
    Fungsi kalimat (6),(7),(8),(9),(10): menjalin perkenalan
  4. Bahasa, Ragam, dan Tingkat Tutur
    Bahasa yang mula-mula digunakan adalah bahasa Inggris (kalimat 1). Bahasa yang kemudian digunakan adalah bahasa Indonesia (kalimat 2, 3 dan dua kalimat terakhir) dengan tingkat tutur tinggi (kalimat 1, 3, 4, 5). Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam sopan dan formal dengan sedikit nuansa santai di dua kalimat terakhir.
Dari analisis data 2 dapat dikemukakan bahwa pada dialog ini terjadi alih kode, yaitu pada kalimat (2), (3),(9) dan (10). Alih kode pada data 2 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut :
  1. jenis alih kode adalah alih kode bahasa, ragam bahasa, dan tingkat tutur.
  2. tataran alih kode adalah tataran kalimat dan frase
  3. sifat alih kode adalah sementara menyesuaikan dengan situasi
  4. faktor penyebab alih kode ialah: Responden (R) terpengaruh lawan bicara (pada kalimat 2 dan 4),  Pewawancara bermaksud membangun keakraban (pada kalimat 7 dan 9), Mediator menyesuaikan dengan suasana (pada kalimat 3, 5 dan 8).
Pada dialog 2 terjadi campur kode. Responden melakukan campur kode bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Campur kode Data 2 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut:
  1. jenis campur kode ialah campur bahasa, campur ragam, campur tingkat tutur
  2. tataran campur kode ialah tataran kalimat, kata, fonem
  3. sifat campur kode sementara
  4. faktor penyebab campur kode ialah pengaruh bahasa asli penutur (kalimat 2),  penegasan (kalimat 3), dan keinginan menciptakan suasana akrab.
Data 3
P: I was surprised when I heard you speak Bahasa Indonesia just now. I think you are the
right person for the interview. Mudah-mudahan tidak terlalu lama. Bisa kita mulai
sekarang?(1)
R: Well, boleh. Apa yang ingin(baca: inggin) Ibu tanyakan?(2)
P: Pertama-tama saya ingin tahu a few details, nama, usia, alamat, pekerjaan,… untuk
kelengkapan data responden saya.(3)
R: Nama lengkap saya James Andrew Moloch, saya berasal dari Australia, saya tinggal
di Jalan Kiputih(baca: keyputi), menyewa rumah(baca: ruma) saya di sana. Saya
disini sudah hampir dua tahun.(4)
P: Your age? Occupation?(5)
R: Oh, saya lahir tahun tujuh dua(baca: tuju dwa). Saya bekerja di sebuah(baca:
sebwa) perusahaan multimedia.
Sebelumnya saya bekerja di anak perusahaan TELKOM sebagai consultant. Lima
bulan saya sudah bekerja di perusahaan yang sekarang ini. Saya mengerjakan design
animasi. (6)
Keterangan Data 3
  1. Modus pembicaraan: tatap muka secara lisan.
  2. Topik dan subtopik Pembicaraan
    Topik Pembicaraan: meminta keterangan lebih banyak
    Subtopik: data Responden
  3. Fungsi dan Tujuan Berbahasa
    Fungsi kalimat (1): meminta ijin mewawancarai
    Fungsi kalimat (2): mengabulkan permintaan wawancara
    Fungsi kalimat (3): menanyakan data Responden
    Fungsi kalimat (4): menceritakan tentang diri
    Fungsi kalimat (5): bertanya lebih lanjut.
    Fungsi kalimat (6): bercerita lebih banyak
  4. Bahasa, Ragam, dan Tingkat Tutur
    Bahasa yang mula-mula digunakan adalah bahasa Inggris (kalimat 1), yang kemudian segera berganti menjadi dominan bahasa Indonesia. Tingkat tutur yang digunakan adalah tingkat tutur biasa. Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam sopan dan akrab.
Dari analisis data 3 dapat dikemukakan bahwa pada dialog ini terjadi alih kode, yaitu pada kalimat (1). Alih kode pada data 3 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut :
  1. jenis alih kode adalah alih kode bahasa
  2. tataran alih kode adalah tataran kalimat
  3. sifat alih kode adalah sementara menyesuaikan dengan situasi
  4. faktor penyebab alih kode ialah: membangun keakraban
Pada dialog 3 terjadi campur kode. Responden melakukan campur kode bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Campur kode Data 3 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut:
  1. jenis campur kode ialah campur bahasa
  2. tataran campur kode ialah tataran kalimat, kata, fonem
  3. sifat campur kode sementara
  4. faktor penyebab campur kode ialah penyingkatan istilah (kalimat 3 dan 5) dan kenyamanan menggunakan bahasa asli penutur (kalimat 2 dan 4)
Data 4
P: Bahasa Indonesianya sudah lancar sekali. Apakah sebelum datang ke Indonesia pernah
belajar bahasa Indonesia secara khusus? (1)
R: Memang. Sebelum dikirim kesini, saya mempunyai(baca: mempunyjay) pelatihan
Bahasa Indonesia sekiranya 4 bulan. Tetapi sebelumnya juga saya pernah belajar
sedikit-sedikit dari murid Indonesia yang homestay. Itu waktu saya belajar di High
School. (2)
P: And what made you interested in Bahasa Indonesia? Or maybe you were more
interested in the country, Indonesia, I mean.(3)
R: Well, first I got interested in the language. Waktu berkata bilang-bilang dengan
Andi yang dulu itu homestay, kelihatan pada saya bahasa Indonesia mudah; tidak
ada pengubahan tenses. Saya cuma harus banyak ingat kata-kata. Tetapi cerita my
uncle confirmed cerita Andi tentang the beauty of Indonesia. My uncle banyak
sekali datang ke Indonesia, ke macam-macam tempat, macam-macam pulau. He loves
Indonesia very much, especially Borneo, Kalimantan. Jadi, sejak itu saya punya
Keinginan(baca: keyngginan) datang ke Indonesia. Saya mau(baca: maw) lihat
Indonesianya sendiri. Jadi, waktu ada  job offer untuk ke Indonesia, saya melamarkan
untuk pekerjaan itu. (4)
P: Apa ada kesulitan-kesulitan khusus ketika belajar bahasa Indonesia selama 4 bulan?
Itu program intensif perusahaan, ya?(5)
R: Ya, itu kerjasama antara agent dengan Australian Embassy. Itu program bagus.
Pengajar-pengajar juga bagus-bagus. Saya juga enjoy. Tetapi saya waktu itu juga
punya kesulitan …masalah. Sampai sekarang saya belum betul-betul mengerti the use
of affix in Bahasa Indonesia; dan saya juga tidak begitu bagus pilih-pilih kata yang
pas, semisalnya kata “boleh”, “bisa”, “dapat”, lalu kata “ingin”, “mau”, “akan”, atau
kata-kata “punya”, “mengalami”, “mensele..” apa itu.. “menselenggerakan”..(6)
P: Menyelenggarakan?…(7)
R: That’s it; dan kata “mengadakan”…..
Selainnya itu juga saya pada mulanya merasa sulit menangkap pembicaraan di film-
film, sangat cepat. Bahasa yang saya belajar sangat berbeda dengan daily
conversation. Tetapi sekarang saya sudah sering, sudah biasa. (8)
P: Ada kesulitan dengan pengucapan, pronunciation?(9)
R: Well, mungkin ada juga. Tapi saya rasa tidak banyak. Saya tahu ada beberapa huruf
tidak dibunyikan. Bahasa Indonesia saya kira mirip Bahasa Jerman, tidak banyak
beda antara tulisan dan bacaan. Tapi intonation saya masih belum bisa mengikuti.(10)
P: Sewaktu kerja di anak perusahaan TELKOM, apakah menggunakan bahasa Indonesia
untuk rutinitas kerja?(11)
R: Iya, itu yang saya menyesal. Waktu itu orang-orang di kantor… well, they hired an
English instructor and asked me to speak English on every occasion, supaya mereka
latihan; ada program mengirim employees untuk training di luar negeri, in turns. (12)
P: So how do you improve your Indonesian, then?(13)
R: I have a best friend, a local friend. Kita sering ketemu. Actually, he’s the one who first
introduced me to my wife. He’s a graduate from Monash. Dia ajak saya kerja di kantor
saya sekarang. (14)
P: OK, then, Jim, I think I’ve had enough for my report. Terima kasih banyak. It’s really
nice talking to you.(15)
R: Sama-sama.(16)
Keterangan Data 4
  1. Modus pembicaraan: tatap muka secara lisan.
  2. Topik dan subtopik Pembicaraan
    Topik Pembicaraan: kemampuan dwibahasa Responden
    Subtopik: cara Responden memperoleh dan mengembangkan bahasa asing
  3. Fungsi dan Tujuan Berbahasa
    Fungsi kalimat (1): menanyakan pelatihan bahasa Indonesia Responden
    Fungsi kalimat (2): menjelaskan pelatihan bahasa Indonesia
    Fungsi kalimat (3): menanyakan motivasi Responden berdwibahasa
    Fungsi kalimat (4): menjelaskan alasan berdwibahasa
    Fungsi kalimat (5): bertanya tentang kesulitan belajar bahasa Indonesia
    Fungsi kalimat (6): menjelaskan kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia
    Fungsi kalimat (7): mengoreksi kata
    Fungsi kalimat (8): menyetujui koreksi kata
    Fungsi kalimat (9): bertanya tentang kesulitan pengucapan
    Fungsi kalimat (10): menjelaskan tentang pengucapan
    Fungsi kalimat (11): bertanya tentang penggunaan bahasa Indonesia di tempat kerja.
    Fungsi kalimat (12): menjelaskan kurangnya kesempatan berbahasa Indonesia
    Fungsi kalimat (13): menanyakan cara meningkatkan kemampuan dwibahasa
    Fungsi kalimat (14): menjelaskan cara meningkatkan kemampuan dwibahasa
    Fungsi kalimat (15): berterimakasih telah bersedia diwawancara
    Fungsi kalimat (16): menunjukkan sikap akrab
  4. Bahasa, Ragam, dan Tingkat Tutur
    Bahasa yang mula-mula digunakan adalah bahasa Inggris (kalimat 1), yang kemudian segera berganti menjadi dominan bahasa Indonesia. Tingkat tutur yang digunakan adalah tingkat tutur biasa. Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam sopan dan akrab.
Dari analisis data 4 dapat dikemukakan bahwa pada dialog ini terjadi alih kode, yaitu pada kalimat (3, 4, 12, 13, 14, 15)). Alih kode pada data 4 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut :
  1. Jenis alih kode adalah alih kode bahasa
  2. Tataran alih kode adalah tataran kalimat
  3. Sifat alih kode adalah sementara menyesuaikan dengan situasi
  4. Faktor penyebab alih kode ialah: mempraktekkan dan menguji kemampuan dwibahasa masing-masing
Pada dialog 3 terjadi campur kode. Responden melakukan campur kode bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Campur kode Data 3 dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut:
  1. Jenis campur kode ialah campur bahasa
  2. Tataran campur kode ialah tataran kalimat, kata, fonem
  3. Sifat campur kode sementara
  4. Faktor penyebab campur kode ialah pemilihan istilah yang tepat (8, 9), ketidak-tahuan padanan kata(2, 5, 6, 8), dan kenyamanan menggunakan bahasa asli penutur (4, 10, 12)
  1. SIMPULAN
Alih kode terjadi dalam masyarakat bahasa bilingual, multilingual maupun monolingual. Alih kode terjadi untuk menyesuaikan diri dengan peran, atau adannya tujuan tertentu. Menurut jenisnya, alih kode dibedakan menjadi alih bahasa, alih ragam, dan alih tingkat tutur. Ditinjau dari segi tataran, alih kode terdiri atas alih tataran fonem, alih tataran kata/frasa, dan alih tataran kalimat. Alih kode juga dapat digolongkan menurut sifatnya, yaitu alih kode sementara dan alih kode permanen; sedangkan menurut penyebabnya, alih kode terjadi karena faktor (1) pribadi pembicara, (2) kedudukan, (3) hadirnya orang ketiga, dan (4) pokok pembicaraan atau topik.
Campur kode terjadi dalam masyarakat bilingual, multilingual maupun monolingual. Campur kode dapat terjadi tanpa adanya sesuatu dalam situasi berbahasa yang menuntut adanya pencampuran bahasa, tetapi dapat juga disebabkan faktor kesantaian, kebiasaan atau tidak adanya padanan yang tepat.
Menurut jenisnya, campur kode dibedakan menjadi campur bahasa, campur ragam, dan campur tingkat tutur. Ditinjau dari segi tataran bahasa, campur kode terdiri atas tataran fonem, tataran kata/frasa, dan tataran kaliamt. campur kode dapat digolongkan menurut sifatnya, yaitu campur kode sementara (interferensi) dan campur kode permanen (integrasi). Dalam analisis data di atas terjadi alih kode dan campur kode yang cukup bervariasi.
Korpus data dalam laporan ini sangat terbatas sehingga tidak mampu menjaring setiap bentuk alih kode dan campur kode dari berbagai perspektif. Oleh karena itu, pada kesempatan lain rasanya perlu diupayakan korpus data yang lebih memadai agar kajian tentang alih kode dan campur kode menjadi lebih lengkap.
  1. RUJUKAN
    Beardsmore, Hugo Baetens. 1982. Bilingualisme: Basic Principles.
Brusel:Vrije Universiteit.
Hymes, D. 1964. Toward Ethnographies of Communicative Events .
PP. Giolooli (Ed).
Kridalaksana, Kristen. 1986. The Linguistics Encyclopedia .
London: Routledge (Ed).
Nababan, P.W.J. 1986. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar . Jakarta: PT. Gramedia.
Rusyana, Yus. 1989. Perihal Kedwibahasaan (Bilingualisme).
Jakarta: Depdikbud

0 komentar :

Posting Komentar